Novel Review: Kutipan Favorit Kedua Novel Catatan Hati Seorang Istri (Asma Nadia)

Entah kenapa, saya yang masih berstatus lajang dan belum pernah menikah ini, begitu terenyuh membaca sebuah kisah yang ditulis Asma Nadia dalam Catatan Hati Seorang Istri atau yang biasa ibu-ibu menyingkatnya dengan CHSI. Mungkin, perasaan ini muncul karena tulisan Asma Nadia yang gak sekadar bercerita, tapi juga
mampu membuat pembaca seperti terlibat di dalam ceritanya. Faktor lainnya, yaa karena kami sama-sama perempuan. Pun, saya belum menikah, toh kelak saya akan menjadi seorang istri juga. Insya Allah…
Di antara teman-teman mungkin sudah ada yang pernah membaca novel CHSI ini. Coba baca atau ingat-ingat kembali salah satu judul tulisan dalam novel ini yang berjudul “Perempuan Misterius”. Entah, ini kisah pribadi sang penulis atau bukan. Yang penting, baca dulu. Mau kalian cewek, cowok, ataupun yang gak jelas cewek atau cowoknya, baca!!!


Tulisan Asma tersebut bercerita tentang kehidupan rumah tangga seorang wanita yang sudah dibina bersama sang suami selama lima belas tahun. Sang suami di mata istri adalah seorang laki-laki bertanggung jawab, shaleh, dan sempurna. Lima belas tahun, tidak sedetikpun sang istri merasa cemburu dan curiga terhadap sang suami. Tapi, semuanya berubah ketika suatu hari sang istri menemukan deretan pesan singkat dari nama kontak yang aneh di kotak pesan masuk handphone sang suami. Padahal sebelumnya, sang istri tidak pernah tergerak hatinya untuk sekadar masuk pada menu SMS di HP sang suami tersebut. Ya, tidak bisa dipungkiri, atas kehendak Allah, tergeraklah jari-jari sang istri untuk mengeceknya. Sang istri membaca satu persatu pesan tersebut. Hatinya terkoyak begitu mendapat pesan bernada mesra. Sang istri saat itu lantas tidak langsung diliputi perasaan curiga yang menutupi hati dan logikanya. Berharap bahwa pesan singkat mesra ini tidak ia temukan di kotak pesan terkirim. Ia pun lalu menelusuri kotak pesan terkirim sang suami. Dengan hati yang semakin terkoyak, kini sang istri harus mendapati kenyataan pahit bahwa deretan pesan singkat mesra di kotak masuk dibalas mesra pula oleh sang suami. Atas pengakuannya sendiri, sang suami mengaku telah menjalin hubungan dengan perempuan misterius selama tiga tahun. Tidak bisa dibayangkan oleh sang istri, apa yang terjadi di antara sang suami dan perempuan misterius itu selama tiga tahun.
Tulisan Asma Nadia ini betul-betul berhasil membuat saya terenyuh. Membayangkan saya berada di posisi sang istri. Naudzubillah minzaliik.
Memang betul, bahwa yang terpenting dalam sebuah hubungan ialah komunikasi dan kepercayaan. Masing-masing pihak wajib memiliki andil dalam membangun keduanya dengan takaran yang setara. Tidak boleh ada yang lebih dan tidak boleh ada yang kurang. Dari kisah tersebut, saya berpikir, kepercayaan apa lagi yang tersisa pada sang istri setelah kejadian tersebut. Sia-sia adalah satu kata penutup dan memaafkan mungkin jadi pengobatnya.
Terlalu banyak laki-laki di luar sana yang sepertinya belum memahami arti kepercayaan. Begitu dangkalnya kah mereka berpikir, hingga tidak mampu menelaah apa akibat jika rasa “jatuh cinta lagi pada wanita lainnya” mereka lanjutkan?
Pertanyaan saya di atas mungkin tidak berlaku jika kepercayaan dapat dibeli. Meskipun demikian, seandainya kepercayaan dapat ditukar dengan rupiah, saya berani bertaruh, tidak ada seorang pun yang mampu membelinya ataupun sekadar untuk memperbaikinya.
Teruntuk seorang pria di luar sana… di sini, ada kepercayaan yang telah kau rusak, namun telah kuperbaiki sendiri dengan memberimu maaf. Masihkah ada niat terbersit di benakmu untuk mengikis sisa kepercayaan ini? Harus berapa kali lagi saya menerima ujian-ujian hati darimu disaat-saat seperti ini? Saat dimana jiwa dan ragaku telah kuniatkan hanya untukmu kelak ketika segala yang haram dan penantian panjang ini berbuah pernikahan. Apakah niat kita sama? Apakah janjimu masih utuh? Seringkali, deretan pertanyaan ini kusampaikan padamu. Memang, jawabanmu selalu sama. Tapi, sayangnya hatiku tidak pernah mampu meraba keseriusan yang kau bilang itu. Beruntung, karena sisa kepercayaan inilah yang mengantarkanku kesini, di dua tahun kita. Tunjukkan, jika kau mau melihat bagaimana sebenarnya cara saya mencintaimu. Terkesan egoiskah kalimat saya barusan? Toh, saya hanya bersikap layaknya perempuan lain di luar sana yang diminta dan bukan meminta. Perempuan yang menunggu dan bukan yang mendahului.
Untuk menghindari kemunafikan, untuk pria lain di luar sana yang “mungkin” akan betul-betul menjadi jodohku… disini, ada kepercayaan yang masih utuh jika kau mau meraih kemudian menjaganya.
Selamat malam…




0 komentar:

Posting Komentar