Rasanya jadi Mika yang rela melakukan hal-hal konyol hanya untuk membuat Indi tersenyum itu kayak apa siih?
Rasanya jadi Indi yang dipandang sempurna oleh Mika meskipun kenyataannya adalah orang yang cacat itu kayak gimana sih?
Lalu, rasanya jadi Mika yang juga dipandang sempurna oleh Indi yang meskipun kenyataannya adalah seorang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) itu kayak gimana siih?
Saya, sebagai orang yang diberi kesempurnaan sebagai manusia oleh Allah malah kadang justru tidak pandai bersyukur dan hanya bisa mengeluh bahkan terkadang menuntut untuk diperhatikan lebih oleh orang-orang sekitar layaknya orang yang sedang sakit bahkan lebih. Parahnya, kenapa saya kadang tidak sadar untuk memberi perhatian balik kepada mereka yang selalu meluangkan waktunya hanya untuk sekadar menelpon, menanyakan kabar dan menanyakan hal-hal sederhana yang bagi saya tidak penting tapi bagi mereka itu sangat penting.
Jika nanti saya diberi tiga hari luang dan kesempatan, saya mau membagi tiga hari itu untuk tiga orang yang paaaaaliiiiing saya sayangi.
- Seharian penuh untuk menemani Mama. Mengikuti semua maunya, mendengar keluh kesahnya, menuruti ajakannya kemanapun dia mau, daaaaaannnnnn semuaaaanyaa.
- Seharian penuh untuk menemani Tetta. Mengikuti semua maunya, bantu kerja tugas-tugasnya yang numpuk tanpa diberi imbalan sedikitpun, menjawab dengan detil semuaaaa pertanyaannya tanpa ada nada kesal sedikitpun. Maaaauuuuu sekali.
- Seharian penuh untuk menunjukkan rasa sayang buat *yang masih dirahasiakan namanya*. Meskipun tidak sedang sakit, akan saya kompres ubun-ubunnya :D. Bantu cabut ubannya yang meskipun masih muda tapi sudah beruban. :D Bantu keluarkan komedo-komedonya yang sudah bejibun di wajahnya juga saya mau kok. Tapi, kapan yaa? Untuk ketemu saja susahnya minta ditimpuk. Hufffettt!

0 komentar:
Posting Komentar