Novel Review: PENJUAL KENANGAN - Karya: Widyawati Oktavia

Novel review kali ini agak sedikit kubuat bertele-tele. Kenapa? Karena, hidupku juga rasanya sedikit bertele-tele akhir-akhir ini. Ahh...ini semua terjadi sejak kembang api tahun baru menyerang langit.

Waktu itu...karena lagi mumet dengan akivitas yang semakin padat, saya ditemani teman kampus iseng jalan-jalan, akhirnya nge-mall, nonton dan mampir sebentar di toko buku. Sampai di toko buku, saya asyik celingukan di antara rak-rak buku novel. Dan...akhirnya memboyong novelnya mbak Widyawati ini pulang ke kost.

Sampai di kost, novelnya cuma dijadikan teman tidur. Gak dibaca sama sekali. Sampai akhirnya jadwal kuliah memasuki babak akhir. Yess...libur! Saatnya pulang kampung. Tentu, Penjual Kenangannya mbak Widyawati tidak ketinggalan.

Sampai tulisan ini saya posting disini, saya baru kelar membaca satu bagian awal. Judulnya, "Carano", dan tersisa sepuluh bagian lagi. Tapi, itu bukan alasan mengurungkan niat untuk membagikan satu bagian novel ini kepada teman-teman. Kan, "sampaikanlah, walau satu ayat" masih saya pegang teguh. Selagi itu hal baik, kenapa tidak?



Kisah pada bagian 'carano' ini menjadikan novel ini lain dari pada yang lain. Khas dan berkarakter. Begitu kata para komentator ajang pencarian bakat di layar kaca. Hihi...
Yaa...novel ini tidak jauh-jauh dari tema keluarga, budaya, dan juga....perCINTAan.

Carano-nya mbak Widyawati ini menyuguhkan peliknya kehidupan modernisasi yang semakin menggerus nilai adat-istiadat masyarakatnya. Alih-alih karena sudah lama tinggal di kota, katanya budaya seperti 'carano' ini sudah lumrah jika ditinggalkan. Begitu yang saya tangkap dari penggambaran mbak Widya tentang pihak marapulai dalam bagian 'carano' ini. 

Carano sendiri merupakan syarat dalam meminang. Seperti tatakan buah yang agak sedikit kecil ukurannya dan berisi kapur, gambir, pinang, dan juga tembakau. Carano ini lah yang dibawa pihak nak daro pada saat melamar kepada pihak marapulai. Dan, sebagai tanda penerimaan, pihak marapulai sejatinya memakan atau mengunyah pinang dalam 'carano' tersebut. Tentu, ada-istiadat seperti ini memiliki nilai kearifan lokal yang harus dijaga. Mbak Widyawati menggambarkan bahwa "dalam rasa sirih yang pahit dan manis, ada simbol harapan dan kearifan manusia menyikapi kekurangannya" dan "harus pula ada arai pinang berwarna kuning jernih pagi melingkari sekeliling bagian dalam carano yang terbuat dari kuningan itu. Menjaga harapan dan kearifan".

Bisa dilihat, baru membaca satu bagian saja, novel ini sudah berhasil menambah khazanah pengetahuan saya tentang adat-istiadat suku Minang. Sebelumnya, saya memang pernah mendengar cerita bahwa di ranah Minang sana, terdapat tradisi lamaran yang dilakukan pihak 'nak daro' atau mempelai wanita kepada pihak 'marapulai' atau mempelai pria. Jauh berbeda dengan suku-suku lain yang ada di Indonesia, termasuk suku Makassar, dimana pihak mempelai pria lah yang melakukan lamaran kepada pihak mempelai wanita. 

Kentalnya nilai kearifan lokal dalam novel ini juga ditambah dengan dialek Minang yang digunakan mbak Widyawati pada beberapa bagian percakapan antartokohnya. Tapi, tenang... saya yang orang Makassar asli pun bisa memahami dialek tersebut. Tampaknya, ini adalah salah satu misi mewujudkan efektivitas komunikasi antarbudaya. Review saya kali ini memang agak condong ke arah budaya yang diangkat mbak Widyawati. Tapi, yang lagi cari bacaan cinta-cintaan, novel ini juga cocok, kok! Saya kan juga anak muda. Hihi...

Bagi teman-teman yang penasaran, silahkan dicari lalu dibeli novelnya. Dijamin tidak murahan isinya. Belum ada cap best sellernya sih, tapi saya jamin isinya tidak kalah dengan karya best seller. Bagi saya, karya apapun yang ada di dunia ini tidak memiliki takaran baik buruk. Sebab, dibalik karya tersebut ada proses yang belum tentu pernah dialami seorang pencela. 

1 komentar: