Membaca kata pengantar ini, bisa jadi akan mendatangkan perubahan pola pikir atau malah pola pikir baru yang disadari. Terkhusus, bagi mereka yang tidak berkecimpung atau belum mempelajari bidang Ilmu Komunikasi. Kenapa? Ya, sebab apa yang dipaparkan sangat menarik. Menggunakan bahasa yang komunikatif, namun tetap mengedepankan analisa kreatif.
Prof. Ibnu mengawali kata pengantarnya dengan memaparkan tentang proses komunikasi yang berlangsung pada sistem penerbangan pesawat. Di mana adanya kegagalan komunikasi yang menyebabkan kecelakaan pesawat Boeing 777 milik Asiana Airlines Korea Selatan dengan rute penerbangan Seoul-San Fransisco pada Sabtu, 6 Juli 2013, pukul 11.26 waktu setempat.
Selain analisa tentang faktor kecelakaan pesawat di atas, Prof. Ibnu juga memaparkan berbagai rentetan peristiwa kecelakaan pesawat lain dengan mengedepankan analisa menggunakan kacamata komunikasi. Bahwa kecelakaan yang terjadi bukanlah semata-mata dikarenakan Prof. Ibnu menjelaskan bahwa betapa pentingnya komunikasi bagi kehidupan manusia, karena komunikasi telah ditetapkan sebagai salah satu kebutuhan dasar (basic of life) sejajar dengan oksigen dan makanan yang jika tanpa kedua hal itu, manusia akan mati. Bahwa jika dalam sehari saja manusia tidak berkomunikasi dengan manusia lain, hidup akan terasa hampa. Dan, bisa dipastikan hampa.
Hal menarik lain yang saya temukan dalam kata pengantar ini, Prof. Ibnu mengemukakan proses komunikasi sebagai suatu siklus dalam kehidupan. Dimulai dari komunikasi yang dilakukan oleh ayah dan ibu yang menjalin perkawanan hingga perkawinan. Setelah memiliki anak, mereka tetap menggunakan komunikasi untuk menunjukkan kasih sayangnya dalam mendidik anak. Setelah anak beranjak remaja hingga dewasa, anak kemudian turut menggunakan komunikasi untuk berinteraksi dengan dunia luar, mencari calon teman biasa hingga teman dekat. Prof. Ibnu menyatakan pula bahwa "komunikasi yang berkualitas dalam perkawanan, bisa mengantarkan sepasang teman laki-laki dan perempuan ke jenjang perkawinan".
Hal menarik selanjutnya oleh Prof. Ibnu adalah pemaparannya tentang alasan kenapa studi komunikasi sangat dibutuhkan? Beliau mengatakan bahwa dengan pendidikan dan pelatihan komunikasi, orang bisa berkomunikasi dengan hebat dan dapat menunjang keberhasilan karirnya. Karir yang mapan, tentu akan mengantarkan seseorang menuju kesuksesan.
Bagi saya pribadi pun, setelah hampir lima tahun menempuh pendidikan komunikasi, merasa bahwa studi ini tidak seperti dengan studi-studi lain. Ilmu komunikasi menurut saya adalah studi yang unik. Tidak hanya berkawan dengan buku-buku, tapi juga bisa menyalurkan hobi.
Sama seperti dulu, ketika duduk di bangku SMP, saya senang sekali mendengarkan radio hingga sesekali membayangkan diri sendiri menjadi seorang penyiar. Ternyata, setelah duduk di bangku kuliah, saya akhirnya bisa merasakan asyiknya bekerja sebagai seorang penyiar. Tidak hanya itu, kesenangan saya dalam kegiatan tulis-menulis karya fiksi berupa cerpen dan tulisan kreatif lain seperti feature ternyata bisa saya salurkan pada mata kuliah Penulisan Kreatif. Hingga feature yang pernah saya buat berhasil dimuat pada buletin jurusan kampus. Begitu pula cerpen saya, karena semakin mendapat teori tentang penulisan kreatif, cerpen saya pun berhasil dimasukkan pada sebuah buku kumpulan cerpen dan berhasil meraih juara kedua pada lomba penulisan cerpen tingkat Sulawesi Selatan.
Setelahnya pun, saya semakin termotivasi untuk lebih percaya diri mengikuti berbagai lomba penulisan cerpen dan mengikutsertakan tulisan nonfiksi saya berupa apresiasi budaya untuk diterbitkan pada salah satu harian ternama di Sulawesi Selatan.
Saya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, sangat merekomendasikan kepada teman-teman yang ingin atau sedang belajar tentang Ilmu Komunikasi untuk membaca kata pengantar ini sebelum lebih jauh mempelajari Ilmu Komunikasi itu sendiri. Kata pengantar ini mampu membuka khazanah berpikir tentang komunikasi yang kerap tidak disadari sebagai suatu hal yang sangat penting dalam menunjang kehidupan.
Salam Komunikasi...

0 komentar:
Posting Komentar